3 tahun lebih sudah saya tinggal di Batam, sebuah pulau yang berlokasi di Kepulauan Riau ini tempat saya berlabuh dari kota asal saya, Malang. begitu banyak kenangan yang terjadi dan saya alami hingga saya tidak mampu mengungkapkan dengan kata-kata (lebay…….). namun, setelah 3 tahun berlalu, belum ada rasa di hati untuk menjadikan Batam sebagai kampung halaman ke dua bagi saya (sok banget sih….). sebenarnya ada lebih dari 10 alasan saya tidak betah di Batam, malahan bisa 300 alasan lebih (ga segitunya kaleee….).
1. panas amit-amit, Batam amat berbeda dengan Malang, kota kelahiran saya yang cenderung agak sejuk (bukan dingin lho).
2. kendaraan umum yang semrawut, coba saja anda lihat di daerah bengkong atau di mukakuning (dekat simpang dam), berhenti di tengah jalan, atau di mana pun anda berkendara di jalan, si supir taxi, carry, DP12, Jo-Nong, suka tiba-tiba minggir tanpa lampu sign.
3. jalan berlubang/tidak layak, anda tidak akan bisa memprediksikan berapa lama jalan akan mulus-mulus saja. bisa saja pagi mulus, malamnya berlubang. apalagi kalau anda hobi main ke tanjung uncang, jika musim hujan datang (ow ya, lupa, di batam tidak kenal musim), anda bisa mandi lumpur gratis.
4. tidak ada Blitz Megaplex, 21 cineplex only. jangan harap menemui studio bioskop selain 21 cineplex (group) disini. cuma ada 2 (sampai tulisan ini saya posting) yaitu, 21 cineplex di Nagoya Hill, dan XXI cineplex di Mega Mall Batam Centre. dimana di kedua bioskop tersebut maksimal hanya menyediakan 6 studio yang semuanya garing abis.
5. tidak ada toko buku yang lengkap, ini dia, bagaimana masyarakat pendidikan di Batam mau pinter. Mau cari buku Analisa Perancangan Sistem saja harus pesan ke Yogyakarta
6. tidak ada universitas / perguruan tinggi yang qualified, ada PT yang nekat bikin program pasca sarjana tapi ga punya guru besar, minimal S3 lah. masa jeruk makan jeruk sih. (melirik ke diri sendiri)
7. masyarakat apatis, terutama jika anda tinggal di daerah batam centre atau di perumahan - perumahan. jangankan datang untuk rapat RT, tetangga depan, kiri-kanan saja tidak kenal.
8. tidak ada obyek wisata selain : pantai, hutan, mall, pantai, hutan, mall… batam = ga kreatif, satu lagi, yang ini memang secara pribadi sih, di batam tidak ada air terjun, gunung berapi, suaka margasatwa, taman bunga,
9. biaya hidup mahal, kalau di jawa nasi campur bisa didapat dengan harga maksimal 4000 rupiah, di batam,…. JANGAN HARAP !!!
10. tidak ada tempat nongkrong asyik, kalau di Malang biasa nongkrong di alun-alun Tugu dan Kota, kebut-kebutan di depan stasiun kota, ato mangkal di warung Bakso… di batam???? ke Mall ??? OH NOOOO
untuk no 11 ampe 300 biar saya simpan di dalam hati saja deh…. takut-takut saya dipukulin orang batam aseli nih…
di atas segala keluha di atas, kita tetap patut bersikap konstruktif terhadap kota ini. Ya ga, Pak Ria dan Pak Dahlan
Tags: batam, Iseng
















11. sebagian bloggernya ga bangga dengan Batam!!!
Wekekekeke
Elo bisa bisa aja bro
hehehe, maaf mas farhan. hanya tulisan orang rantau saja yang kangen ama kampung halaman
Duh, jangan banding2in deh, emang kalah jauh sama Jawa…
secara Batam kota industri, jadi alamnya emang ga bagus, orang2nya juga cuek bebek,disini kerja adalad prioritas,
makanya tetep aja banyak yg kesini,
padahal sekarang di Batam aja udah banyak pengangguran,
masih aja banyak orang merantau ke sini, orang Jawa termasuk mayoritas perantau di sini.
jadi ada kelebihan dan kekurangannya mas…
sama kayak Kota Malang-nya mas…
Buanyak banged orang Malang yang jauh2 kesini buat cari duit…
NB: Baru sekarang comment karena iseng2 cari film yang mau saya tonton udah ada atw belum di 21 atw XXI yg mas bilang garing…
emank di Malang film2nya kyk apa si????
@sinta :
hehehe, batam is garing city. buat saya dimana saja saya bekerja, saya tetap rindu kampung (kota) halaman saya, dengan segala kekurangan dan kelebihannya.
ni posting tidak bermaksud apapun selain tumpahan emosi ke-kangenan saya lho… hehehe
film di malang ? sama aja sih, blitz megaplex yang saya tulis di atas itu maksudnya di jakarta. dimana di sana tidak garing karena menyediakan tontonan lebih “variatif”. Biar saya bilang garing, toh saya juga kalo nonton ke sana kok.